Review film

Sex Education: Tidak seperti yang dibayangkan

Judulnya provokatif, tapi ternyata film ini menawarkan cerita yang tidak mudah diduga. Persoalan remaja dihadirkan dalam komedi yang apik.

Sex Education: Tidak seperti yang dibayangkan Source: Netflix

Serial Netflix sebenarnya banyak yang menarik untuk diikuti, salah satunya Sex Education. Ya, judulnya memang cukup provokatif bagi sebagian orang, termasuk saya sendiri. Untuk diperhatikan, film ini memiliki rating 16+, yang artinya hanya bisa dinikmati oleh orang dewasa saja. Wajar. Pasalnya, ada banyak adegan seksual di dalamnya.

Sex Education bercerita mengenai seorang remaja kikuk bernama Otis (Asa Butterfield). Tidak seperti remaja kebanyakan dalam film tersebut, ia justru menolak untuk melepas keperjakaannya. Alasannya bukan karena prinsip hidup atau sebagainya, melainkan trauma yang pernah ia alami. Jika mengikuti serial musim pertamanya, trauma itu akan dijelaskan.


BACA JUGA

Ludi Lin bakal perankan Liu Kang dalam film Mortal Kombat

Komedian Kevin Hart bakal main film superhero

It: Chapter Two diperkirakan raup USD95 juta pada penayangan perdananya


Selain Otis, film ini juga berisi sejumlah karakter seperti Eric (Ncuti Gatwa), seorang gay yang menjadi teman kecil Otis, Maeve (Emma Mackey) yang entah bagaimana menjalin kedekatan dengan Otis. Oh iya, jangan lupakan peran Jean (Gillian Anderson) ibu Otis yang berprofesi sebagai seorang terapis sex.

Otis bekerja sama dengan Maeve untuk membuka klinik konsultasi seksual. Ia memberi masukan pada teman-temannya mengenai kendala seksual yang kerap mereka alami.

Sebagai sebuah film dengan rating dewasa, Netflix termasuk berani memulai film ini. Lebih baik menonton film ini sendiri ketimbang bersama keluarga. Jangan sampai tercipta momen-momen canggung ketika muncul adegan seks dalam film.

Di tiga episode awal, jujur saja film ini terasa agak membosankan. Sebagian besar dialog hanya membahas mengenai seks di kalangan remaja tersebut. Jalan ceritanya kurang berkembang, eksplorasi karakternya juga belum terlalu banyak. Namun toh bisa dimaklumi. Tetapi tetap saja sayang untuk menghabiskan tiga episode dengan durasi sekitar 45 menit hanya sebagai pembuka untuk keseluruhan kisah. Apalagi beberapa karakter selalu muncul dalam setiap episode.

Masuk ke episode empat, dinamika film ini mulai berubah. Alurnya mulai lancar dan saya mulai mengerti mau dibawa kemana film ini. Hubungan antar karakternya mulai tampak jelas. Yang paling menonjol adalah konflik yang ada mulai tertata dan solusi yang muncul terkadang tidak terduga.

Seperti yang sudah dituliskan di atas, judulnya memang provokatif, pun juga dengan 5 menit pertama film ini. Tetapi toh ternyata tidak selamanya demikian. Film ini menawarkan keseimbangan cerita antara komedi dan drama. Menyelesaikan season satu cukup menyenangkan. Setiap akhir episodenya selalu memancing saya untuk menyaksikan lanjutannya.

Bagi saya, film ini bukan sekadar film bertema seksual belaka. Sex Education lebih kepada pencarian jati diri seorang remaja. Setiap orang memiliki konflik dan masing-masing mencari cara untuk mengatasi konflik tersebut.

Asa Butterfield cukup menawan ketika memerankan Otis. Perubahannya dari seorang remaja kikuk menjadi salah satu orang paling bijak di sekolah (dengan menjadi konselor seks bagi teman-temannya), namun tetap mempertahankan kekikukannya. Atau perjuangan Eric agar diakui sebagai seorang gay oleh ayahnya sendiri. Atau, perjuangan Maeve melawan stigma yang melekat pada dirinya.

Saya cukup senang bagaimana Otis ditampilkan dalam film. Ia sebenarnya adalah pemeran utama. Tetapi perannya lebih seperti pemeran pembantu ketimbang pemeran utama. Ada kalanya ia tampil menjadi pemeran utama, tapi sebagian besar ia memberi ruang untuk eksplorasi mendalam karakter lainnya.

Secara keseluruhan, film ini ternyata melebihi ekspektasi saya, terutama setelah menyaksikan tiga episode pertamanya. Unsur komedinya ditempatkan dengan pas. Komedinya juga menarik. Yang terpenting, film ini tidak menjadikan ranah seksual sebagai bahan jualan murahan. Ada nilai yang mau diperjuangkan di balik.

Oh iya, salah satu hal menarik lainnya adalah film ini cukup konsisten untuk menahan klimaks film hingga akhir. Secara berturut-turut semua konflik mencapai konklusi di episode 8. Jadi saya bisa mengakhiri season pertama dengan lega.

Menurut saya Sex Education menjadi pilihan untuk Anda yang ingin menonton komedi dengan balutan yang tidak biasa.

(video)
Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: