Review Film Alpha

Sebuah kisah petualangan melawan alam prasejarah

Film ini berlatar belakang Eropa 20.000 tahun lalu. Kisah perjuangan pria yang bertahan dalam dalam ganasnya alam liar di zaman prasejarah.

Sebuah kisah petualangan melawan alam prasejarah source image : Coloumbia Pictures

Petualangan selalu menawarkan cerita mendebarkan. Itulah kenapa salah satu genre film yang saya sukai adalah petualangan. Film berjudul Alpha menawarkan genre petualangan yang agaknya tidak biasa. Dari trailer yang sudah saya intip, petualangan Alpha nampaknya ada sentuhan dramanya juga. Oleh karena itu saya tidak ragu-ragu untuk menonton film tersebut.

Eropa, 20.000 tahun yang lalu


BACA JUGA

Netflix uji coba kurator film manusia

Disney+ tambahkan Ms. Marvel, She-Hulk dan Moon Knight di Phase 4

83 ribu penggemar tanda tangani petisi agar Spider-Man tetap di MCU


Albert Hughes adalah sutradara film Alpha ini. The Book of Eli adalah salah satu film garapan Albert. Kalau di The Book of Eli, Albert berhasil membangun setting appocalypse, kini Albert membawa kita ke latar berlatar belakang benua Eropa 20.000 tahun yang lalu.

Di awal film menceritakan tentang sebuah suku yang hendak berburu sekumpulan bison purba. Di tengah-tengah perburuan, Keda (Kodi Smit-McPhee) tidak sengaja terpisah dari sukunya. Nah, dari sinilah petualangan Keda mulai. 

Keda adalah pria muda yang baru pertama kali mengikuti perburuan dalam kelompoknya. Sebagai pemula ia tentunya tidak terlalu paham dengan keadaan alam sekitar dan cara bertahan hidup. Setelah tersesat, misi Keda satu-satunya adalah bagaimana caranya ia kembali ke tempat asalnya dan bertahan hidup melawan ganasnya alam.

Alur kisah yang ditawarkan mengingatkan saya kepada film Life of Pi (2012). Alpha dan Life of Pi sama-sama berkisah soal hubungan manusia dengan hewan buas. Ini adalah sebuah kisah besar tentang anak manusia yang tidak semua orang pernah mengalaminya.

Berbeda dengan Life of Pi, sosok serigala pada film Alpha tidak memiliki jarak dengan Keda. Drama yang terjadi antara sang serigala dengan Keda berubah intim.

Uniknya, Albert menggunakan bahasa Yunani sebagai bahasa dialog di film Alpha ini. Entah mengapa mendengar bahasa yang tidak familiar di telinga saya justru makin membuat saya berada dalam peradaban prasejarah.

Selain itu, Albert juga terbilang cukup apik membangun latar belakang lingkungan lewat potongan-potongan gambar pemandangan pendukung seperti langit malam bertaburan bintang gugusan galaksi. Lokasi dan sinematografinya yang epik membuat saya dapat merasakan betapa segarnya udara pagi hari di film tersebut, meski tidak mengalaminya secara langsung.

Berbicara tentang gugusan galaksi, dalam film ini Keda mengandalkan rasi bintang Biduk sebagai arah jalan pulang. dalam film ini, Keda menyebutnya sebagai ‘cahaya dari para leluhur’. Sekali lagi, meski ada rasi bintang yang sangat jelas di langit, terkadang Keda kesulitan melihatnya jika cuara sedang buruk.

Tidak sulit untuk mengikuti alur cerita dalam film ini. Cara pengambilan gambar dan gestur tubuh sang pemeran utama sudah dapat menjelaskan apa yang ingin disampaikan sutradara kepada penonton. Tetapi ada beberapa bagian yang membuat saya bosan. Alasannya, karena Keda terlalu sering mengingat keluarganya.

Rasa bosan saya terobati oleh adanya selingan bumbu humor di pertengahan film. Sebenarnya sentuhan humor tersebut sangat ringan, akan tetapi karena film ini lebih condong ke arah sangat serius, komedi ringan pun akan terasa segar.

Satu hal yang jadi sisi kekurangannya. Saya pikir saya akan melihat manusia prasejarah primitif dengan penutup aurat seadanya seperti halnya 10.000 BC. Kostum para pemeran di dalam film Alpha meruntuhkan imajinasi saya tentang era prasejarah. Terlalu modern untuk ukuran zaman 20.000 ke belakang. Meski demikian, kondisi alam tetap sangat mendukung untuk menunjukkan behwa film Alpha terjadi di masa 20.000 tahun yang lalu.

Nilai lebihnya, berkat teknologi Computer Graphic Image (CGI) yang canggih, membuat saya tidak terlalu mampu membedakan mana yang asli dan mana yang CGI. Teknologi CGI di dalam film ini yang paling memukau saya adalah ketika Keda diserang binatang buas. Rasanya seperti asli.

Sebelum menonton, saya juga sengaja membeli tiket di teater yang dilengkapi tata suara Dolby Atmos. Tujuan saya adalah untuk mendapatkan pengalaman menonton lebih imersif. Ternyata film Alpha tidak dilengkapi dengan tata suara Dolby Atmos, atau surround 7.1 channel. Yah, apa boleh buat, tata suara 5.1 juga oke lah menurut saya. Itulah pengalaman teknis yang saya dapatkan.

Secara keseluruhan, saya menyukai film ini. Jika harus memberi nilai, saya menilai Alpha 7.5/10. Film Alpha diberi rating ‘Dewasa’, bila Anda terpaksa mengajak keponakan yang masih kecil, sangat disarankan untuk membimbingnya karena film ini beberapa kali menampilkan kekerasan fisik yang tidak pantas dilihat anak kecil.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: