Review film

Roma: Sebuah cinta dalam format mini kata

Netflix akhirnya menghasilkan film yang masuk nominasi piala Oscar. Tidak tanggung-tanggung, ada 10 nominasi yang diberikan untuk film ini.

Roma: Sebuah cinta dalam format mini kata Source: Netflix

Netflix berhasil mencatat sejarah. Ini kali pertama film yang diproduksi layanan streaming tersebut masuk nominasi Academy Award (Oscar). Tak tanggung-tanggung, film tersebut berhasil masuk ke 10 nominasi.

Film garapan Alfonso Cuaron ini berjudul Roma. Roma berhasil masuk nominasi Best Director, Best Original Screenplay, dan Best Cinematography. Film ini membawa pemeran utama, Yalitzia Aparicio masuk nominasi Best Performance by Role Playing Actress. Padahal, Roma merupakan debut karir Yalitzia Aparicio.


BACA JUGA

Cuplikan Child's Play tampilkan Chucky yang lebih pintar

Cuplikan final Dark Phoenix tampilkan kekuatan Jean Grey

John Cena bakal main Suicide Squad 2


Perolehan nominasi ini cukup mengejutkan. Sejauh ini, film berbahasa asing (di luar bahasa Inggris) jarang masuk nominasi Academy Award. Apalagi, pemeran utama merupakan bintang baru yang belum dikenal.

Rasa ingin tahu saya pun tergelitik, ingin ikut menyaksikan juga sinematografi yang ditawarkan Cuaron dalam film ini. Untuk diketahui, selain menulis naskah, Cuaron juga berperan sebagai produser, sutradara, sinematografer dan editor. Bisa dibilang, terwujudnya film ini sebagian besar adalah hasil karya Cuaron.

Begitu menyaksikan awal film ini, dahi saya sempat berkerut. Saya tahu bahwa Roma mengambil latar waktu sekitar tahun 1970-an di Meksiko. Cuaron menghadirkan warna hitam putih di seluruh film ini. Tidak banyak film yang berani menggunakan warna hitam putih di zaman sekarang. Sejauh yang saya tahu, film terakhir dengan format demikian adalah Schindler’s List di tahun 1993. Kala itu, sebenarnya film sudah bisa dihadirkan dengan format warna yang lebih beragam.

Tampaknya, Cuaron ingin menekankan nuansa klasik pada Roma. Untuk itu, dia menggunakan format hitam putih. Ketika saya bandingkan dengan Schindler’s List, format hitam putih di film Roma lebih nyaman dan sinematik.

Ada kesan sentuhan filter Sephia dalam warna hitam putih di film Roma ini. Itu terlihat saat adegan dalam pengambilan gambar wide.

Saya pun menyukai komposisi Cuaron dalam film ini. Segalanya tampak diperhitungkan dengan matang untuk mendukung nuansa klasik di dalamnya. Ini memudahkan kita untuk memahami kondisi lingkungan dalam film tersebut.

Ada satu hal yang saya amati sepanjang film. Pengambilan gambar jarang dilakukan dengan melakukan gerakan pada kamera, seperti panning atau dolly. Cuaron tampaknya lebih senang mengambil gambar tanpa menggerakkan kamera. Terkadang, Cuaron mengambil gambar close up, tak jarang pula mengandalkan lensa wide untuk melakukannya. Karena itulah, film ini dapat menampilkan detail dengan baik.

Pengambilan gambar stabil (still) cukup berisiko kalau karakter dan narasi film tidak kuat. Dinamika gambar pasti sedikit dan memperlambat tempo. Di situlah dituntut kejeliannya.

Roma bercerita mengenai seorang pembantu rumah tangga bernama Cleo. Dia bekerja pada sebuah keluarga yang bertempat tinggal di Roma Neighborhood. Majikannya bernama Sofia yang memiliki suami bernama Antonio. Sofia memiliki empat orang anak, tiga lelaki dan satu perempuan.

Cleo ditampilkan sebagai seorang wanita yang sederhana, tidak banyak bicara dan memiliki kedekatan emosional yang sangat intim dengan keluarga majikannya, terutama keempat anak di dalam rumah tersebut. Sebagai seorang pendatang baru, Aparicio mampu memerankan Cleo dengan baik. Sikapnya malu-malu, bahkan cenderung minder. Dia digambarkan datang dari sebuah pedesaan yang tidak disebutkan namanya, untuk bekerja di Mexico City, di sebuah keluarga dengan kelas ekonomi menengah ke atas.

Cleo sebenarnya adalah perwujudan sosok pengasuh Cuaron saat kecil, Liboria Rodriguez. Seluruh film ini pun sebenarnya sebuah otobiografi Cuaron. Keluarga yang ditampilkan dalam film itu adalah keluarga Cuaron, termasuk Liboria Rodriguez, yang kerap mereka sapa sebagai Libo.

Ada yang menarik sebelum akhirnya Cuaron memilih Aparicio untuk memerankan Cleo. Dia mesti berkeliling Meksiko untuk menemukan orang yang tepat. Mulanya dari kota, hingga akhirnya melipir ke beberapa desa di Meksiko. Sampai akhirnya dia menemukan Aparicio di desa kelahiran Rodriguez. Mungkin saja, faktor kedekatan inilah yang membuat Aparicio berhasil menghidupkan kembali masa muda Libo saat bersama keluarga Cuaron.

Sangat menarik melihat bagaimana Cleo membangun kedekatan dengan keluarga Sofia, tidak hanya dengan anak-anaknya saja, tetapi dengan seluruh anggota keluarganya dalam rumah tersebut. Seolah-olah, saya melihat ada dua orang ibu bagi anak-anak dalam film Roma.

Dalam wawancara dengan Variety, Cuaron menegaskan ada tiga kunci utama dalam film ini, yakni kisahnya berkisar pada Rodriguez yang diwakili karakter bernama Cleo, diambil dari ingatan pribadinya dan menggunakan format hitam putih.

Dan benar saja, seluruh film ini sebenarnya berpusat pada karakter Cleo. Di sini, Cleo digambarkan memiliki konflik batinnya sendiri, terlepas dari konflik keluarga Sofia yang mau tak mau menyeretnya juga. Dalam film ini, Cleo selalu menyimpan konfliknya seorang diri. Namun agak aneh juga ketika film ini berpusat pada karakter Cleo, tetapi penonton tidak disuguhkan latar belakang mengenai dirinya, seperti dari mana asalnya dan apa hobinya di sela-sela pekerjaan sehari-hari.

Untungnya, Cuaron sudah mewanti-wanti ketika memulai produksi Roma, yakni seluruhnya akan berasal dari ingatannya tentang Cleo. Jadi, saya langsung bisa mengatakan: “Oh, mungkin memang cuma sejauh ini.” Tetapi tetap saja meninggalkan rasa penasaran saya untuk mengenal Cleo lebih dalam lagi.

Yang jelas, Aparicio berhasil memerankan Cleo dengan baik. Sebagai aktris pendatang baru, lakon yang dimainkannya sangat impresif, menurut saya. Tak heran, dia berhasil masuk nominasi Best Performance by Actress.

Oh iya, sebelum akhirnya berhasil masuk ke 10 nominasi Oscar, film ini terlebih dahulu ditayangkan di beberapa bioskop di Amerika, sejak 29 November 2018. Itu pun hanya beberapa bioskop terpilih saja yang boleh menayangkannya. Kemudian, pada 14 Desember, film ini mulai dirilis di Netflix.

Secara sinematografi, film ini memang menawarkan kualitas yang sangat baik, pun juga dengan jalan ceritanya. Tak seperti kebanyakan film yang pernah saya saksikan, konfliknya konsisten pada masing-masing karakter. Cleo memiliki pergulatannya sendiri, demikian pula dengan keluarga Sofia. Masing-masing punya persoalan dan Cuaron berhasil membuatnya tidak bentrok satu sama lain. Dan dengan brilian, semuanya mendapat konklusi di saat bersamaan.

Sayangnya, konsistensi Cuaron berakibat pada lambatnya alur cerita. Di beberapa adegan, saya hampir saja merasa bosan karena terasa lambat untuk bisa sampai ke konflik yang lainnya.

Akhir kata, film Roma menjadi sebuah masterpiece tak lain karena ciamiknya Cuaron menampilkan sosok Cleo dalam film. Peran Cleo yang dimainkan Aparicio membuat saya terkesan, bahkan sempat hanyut dalam pergolakan yang dialaminya dalam film tersebut. Dia sukses menarik penonton tanpa harus banyak berdialog.

 
Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: