sun
moon
Premium Partner :
  • partner tek.id synologi
  • partner tek.id oppo
  • partner tek.id acer
  • partner tek.id asus
  • partner tek.id advo
  • partner tek.id wd
  • partner tek.id qnap
  • partner tek.id benq
  • partner tek.id praxis
Jumat, 18 Sep 2020 15:10 WIB

Review film Cuties, eksploitasi hingga kontroversi

Film Cuties yang baru saja dirilis Netflix menuai kontroversi karena dianggap menjadi ‘makanan pedofilia’.

Review film Cuties, eksploitasi hingga kontroversi

Film Cuties yang baru saja dirilis Netflix menuai kontroversi karena dianggap menjadi ‘makanan pedofilia’. Meskipun menuai kontroversi hingga banyak yang memprotes Netflix agar menurunkan film ini, Cuties disisi lain berhasil memenangkan penghargaan. 

Cuties sendiri merupakan film asal Prancis yang menceritakan seorang gadis kecil bernama Amy yang berumur 11 tahun. Di usianya yang masih kecil, ia memiliki banyak keingin tahuan termasuk bagaimana menjadi seorang wanita yang sebenarnya. Dibesarkan pada lingkungannya yang ketatAmy mencoba melakukan segala hal yang dianggap seharusnya dilakukan wanita.

Film ini merupakan cerita masa kecil Maïmouna Doucouré, yang juga berperan sebagai sutradara. Dikutip dari New York Times, Maïmouna Doucouré mengatakan dirinya “tumbuh di dua budaya yang berbeda membuat saya mendapatkan kekuatan serta nilai yang saya miliki saat ini”.

Lantas apa yang membuat film ini menjadi sebuah kontroversi? Rate film ini dipatok untuk usia 18+ dan disertai keterangan "mengandung unsur seks, nudity, language, dan substance. Dengan kata lain, film ini bukan ditujukan untuk ditonton anak di bawah umur. Namun sayangnya, pemeran utama dalam film ini merupakan anak dibawah umur yang masih berusia sekitar belasan tahun.

Review film Cuties

Film ini bermula dari dari kisah Amy, seorang muslim yang berasal dari Senegal dan tinggal di Prancis. Amy tinggal bersama ibu dan kedua adik laki-lakinya. Dalam kesehariannya, Amy bertugas untuk membantu sang ibu menjaga adik-adiknya dan melakukan beberapa pekerjaan rumah. Ia kemudian bertemu dengan segerombolan anak perempuan seusianya dengan pakaian modis yang minim. Disini diceritakan ia mulai tertarik mengikuti mereka dan mencoba berpakaian minim tanpa sepengetahuan ibunya.

Tanpa disengaja ia mendengar percakapan ibunya yang sedang menelepon bahwa ayahnya hendak berpoligami. Meskipun ibunya mengatakan ia harus menerima pernikahan kedua ayahnya, Amy tetap tidak bisa menerimanya. 

Amy kemudian mulai berteman dengan empat orang anak yang suka dance dan sedang mengikuti kompetisi. Dari sini, Amy mulai terobsesi untuk menjadi penari dan mulai belajar menari melalui video dari ponsel yang ia curi dari tetangganya. 

Namun, tarian yang Amy pelajari merupakan sexy dance yang sensual, tidak untuk anak-anak seusianya. Kemudian Amy mengajari temannya untuk melakukan sexy dance ini. Scene ini lah yang membuat film Cuties menuai kontroversi karena memperlihatkan anak-anak dengan pakaian minim melakukan ‘twerking’ tarian dewasa. Adegan ini dianggap mengeksploitasi anak-anak dengan memberikan gambaran yang seksi terhadap anak-anak di bawah umur.

Review film Cuties

Netflix sendiri membantah film ini mengeksploitasi anak-anak, sebagaimana pernyataan yang dikutip dari New York Times. "Film ini memenangkan penghargaan dan memiliki kisah yang kuat mengenai tekanan yang dialami anak-anak ini di media sosial dan juga lingkungannya saat tumbuh dewasa, dan kami akan mendorong siapa pun yang peduli dengan masalah penting ini untuk menonton film (Cuties).”

Film ini memang memiliki makna yang kuat mengenai gambaran anak-anak zaman sekarang yang sudah mengenal dunia media sosial, termasuk lingkungan yang memengaruhi mereka di masa kanak-kanaknya yang akan membentuk karakter mereka. Meski di sisi lain, perkembangan zaman ini membuat mereka dewasa sebelum waktunya. 

Menurut saya pribadi, film ini memang memiliki makna yang dalam tentang kisah Amy yang menggambarkan tantangan anak-anak pada zaman sekarang dalam menghadapi lingkungan. Namun, film ini terlalu vulgar dalam menampikan para pemainnya dengan kesan yang sensual dan seksi sehingga dinilai mengandung unsur pedofilia. Padahal film ini tidak ditujukan untuk penonton dibawah usia 18 tahun, tetapi justru memakai anak di bawah umur untuk menjadi pemeran utama. Jika penonton bisa mengambil makna dari film ini dari segi yang positif, film ini memang bagus. Sayangnya tidak semua orang melihat film ini dari sisi yang positif. Oleh karena itu film ini menuai pro dan kontra.

Share
×
tekid
back to top