Musuh Xbox bukan lagi PlayStation, tapi Stadia

Enam tahun lalu, Microsoft menawarkan konsep mirip Google Stadia. Namun tampakanya ide mereka belum bisa sepenuhnya diterima waktu itu.

Musuh Xbox bukan lagi PlayStation, tapi Stadia

Pada E3 2013, Microsoft pernah tersandung ketika menghargai tinggi dan mencoba membangun ekosistem yang kompleks pada konsol Xbox One. Di atas semua itu, para eksekutif Microsoft berulang kali menampik kekhawatiran para penggemar. Ketika Phil Spencer, yang saat itu menjadi kepala Microsoft Studios, mengumumkan harga USD500 (Rp7,1 juta) untuk Xbox One, audiens E3 2013 tersentak dan terdiam.

Beberapa jam kemudian, Sony naik panggung. Eksekutif menghadirkan konsol baru mereka, PlayStation 4, sebagai pesaing untuk Xbox One. Playstasion 4 itu tidak membutuhkan koneksi internet untuk aktif, game pun tidak akan terikat ke akun online. Ini memudahkan pemain berbagi game lewat cakram fisik. Bos PlayStation, Jack Tretton mengumumkan harga PS4 USD400 (Rp5,6 juta) dan sorak-sorai meledak di seluruh lokasi pagelaran E3 2013.


BACA JUGA

CD Projekt Red pastikan Cyberpunk 2077 akan dukung Ray Tracing

Square Enix tertarik layanan streaming gim

Google ajak gamer bikin gim di dalam sebuah gim


Satu minggu setelah E3, Microsoft membalikkan rencananya untuk Xbox One. Mereka mengubah kebijakan DRM-nya, membatalkan visi online-nya, dan meluncurkan konsol yang beroperasi hampir sama persis seperti PS4.

Sejujurnya, kalau melihat kembali rencana asli Microsoft untuk Xbox One, apa yang mereka ikhtiarkan sangat masuk akal. Game terbesar hari ini adalah pengalaman bermain secara online. Pembelian online telah melampaui penjualan cakram fisik sejak 2013, dan tahun lalu, 83 persen dari semua penjualan game adalah digital, menurut data dari Statista. 

Microsoft pun telah mendapatkan kembali dukungan dari penggemar mereka lewat layanan berlangganan Xbox Game Pass, dan kesediaannya membuka keran lintas platform. Microsoft bahkan meluncurkan versi digital sepenuhnya dari Xbox One S pada bulan Maret lalu.

Langkah Microsoft di 2019

Microsoft secara resmi telah memperkenalkan spesifikasi Xbox generasi terbaru pada ajang E3 2019. Mereka menjanjikan kemampuan yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan Xbox generasi saat ini.

Pihak Microsoft mengatakan, Xbox generasi selanjutnya akan dapat menjalan gim di resolusi 8K, memiliki frame rate hingga 120 fps, dukungan ray-tracing, serta dukungan refresh rate variable. Microsoft juga akan menggunakan SSD pada Project Scarlett.

Microsoft juga mempersiapkan Project xCloud. Layanan ini dikhususkan untuk para pengguna konsol Xbox generasi selanjutnya. Konsepnya serupa layanan streaming, tapi dibangun di atas ekosistem cloud Xbox.

Sudah hampir 18 tahun sejak Xbox dan PlayStation menjadi penentu standar game konsol. Baru-baru ini, tekanan dari Xbox dan Nintendo memaksa Sony untuk mengadopsi platform cross-play, setidaknya dalam beberapa judul game PlayStation.

Hal ini menjadikan peperangan gaming tahun ini bukan antara Microsoft dengan Sony. Tahun ini akan terjadi peperangan di antara Microsoft dengan Google. Layanan Project xCloud Microsoft akan bersaing dengan layanan Stadia milik Google

Universe video game memang sedang berkembang. Google, raksasa teknologi, terjun ke industri gim dengan Stadia, layanan cloud yang menjanjikan kemampuan untuk mengalirkan judul gim apa pun ke perangkat apa pun. Jika berhasil, itu akan secara permanen mengubah cara kita bermain dan menciptakan game. Stadia meluncur secara terbatas pada November 2019 mendatang.

Hanya satu perusahaan game yang saat ini siap untuk bersaing dengan Google, yakni Microsoft. Microsoft telah mempersiapkan ini selama bertahun-tahun. Perusahaan ini memiliki jaringan cloud sendiri yang luas, Azure, dan sedang membangun layanan streaming game, xCloud. 

Setiap game yang berjalan di Xbox One, termasuk Xbox 360 yang kompatibel dengan judul terbaru, akan dapat dimainkan melalui xCloud. Layanan xCLoud juga memberikan ruang untuk game-game debutan yang berjumlah lebih dari 3.500 judul. Versi Beta akan meluncur tahun ini. Kemungkinan akan dibicarakan Microsoft di ajang E3 2019 nanti.

Ada beberapa kunci penting lain yang dapat membuat layanan streaming gim Microsoft dapat mengungguli Stadia. Pertama adalah Xbox merupakan satu-satunya perusahaan gaming yang dapat mengakses infrastruktur Google-level server. Di sisi lain, Sony belum mampu berkompetisi di level yang baru ini. 

Beberapa hari yang lalu, Google memberikan update penting tentang Stadia. Dengan koneksi minimal 35 Mbps, Stadia menjanjikan gaming HDR bebas lag, 4K berkecepatan 60 fps dan dengan suara surround 5.1, semuanya hadir pada Chromecast Ultra, Pixel 3, atau laptop atau PC apa pun. 

Stadia akan memiliki lebih dari 30 judul permainan yang tersedia untuk dibeli saat peluncurannya nanti, termasuk Borderlands 3, The Elder Scrolls Online, Destiny 2, Final Fantasy XV dan Mortal Kombat 11. Stadia juga punya kemampuan mengirim game ke teman melalui hyperlink. Google menjanjikan game akan dimuat dalam waktu sekitar lima detik. Kendati begitu judul game di Stadia masih kalah jauh dari yang dijanjikan xCloud.

Keunggulan yang terakhir dan paling besar yang dimiliki Microsoft adalah hadirnya dukungan bermain lintas platform. Sementara itu para gamer di Stadia hanya akan dapat bermain dengan para pengguna Stadia saja. Para gamer di Project xCloud akan dapat bermain dengan gamer di konsol lain.

Selain PC, Microsoft telah mengamankan perjanjian kerjasama dengan Nintendo. Para gamer di platform Nintendo Switch akan dapat bermain dengan gamer di PC dan Xbox dalam waktu dekat ini.

Microsoft juga sudah melakukan pendekatan dengan Sony. Dalam sebuah pernyataan terbaru, Sony tengah mambahas akan menggunakan layanan cloud milik Microsoft untuk menjalankan layanan online mereka. Kemungkinan besar, dukungan lintas platform antara PC, Xbox, Switch, dan PlayStation juga akan terjadi lewat kerjasama ini.

Usaha Google sebenarnya pernah dilakukan perusahaan seperti OnLive dan Gaikai. Mereka pada masanya dulu menjanjikan pengalaman streaming game yang lancar. Sony membeli Gaikai pada tahun 2012 dan telah mendukung layanan cloud, PlayStation Now, selama empat tahun terakhir. Permasalahannya, mereka masih belum mampu menawarkan gameplay yang konsisten atau dapat diandalkan.

Google berpendapat bahwa Stadia akan berfungsi karena perusahaan telah menghabiskan dua dekade terakhir membangun jaringan cloud global yang padat. Plus, Google memiliki hubungan peering langsung dengan penyedia layanan internet utama seperti AT&T dan Comcast. Hal ini memberikannya jalur data langsung dari server ke perangkat pemain. Hanya saja tidak semua orang menggunakan dua ISP tersebut.

Xbox pernah salah menentukan waktu untuk meluncurkan layanan game streaming digital mereka. Memang, tidak ada jaminan bahwa hari ini mereka akan membawa hasil yang berbeda. Namun, sudah pasti streaming memainkan peran besar di masa depan video gim.

Infrastruktur internet global tumbuh lebih padat dan cepat dari hari ke hari. Kemajuan teknologi seperti 5G kini sudah di depan mata. Selama dekade berikutnya, kemungkinan Xbox, PlayStation dan bahkan Stadia akan berkembang menjadi aplikasi yang menjanjikan di ranah pemain game.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: