Review Film

Justice, drama kok nanggung

Netflix memiliki sebuah film bernuansa Arab. Saya penasaran untuk melihat apa yang ditawarkan film ini. Simak review saya setelah menonton Justice.

Justice, drama kok nanggung Source: Netflix

Netflix akhirnya menayangkan film dengan latar belakang Uni Emirat Arab. Film tersebut berjudul Justice. Meski diklaim sebagai sebuah cerita original, film ini sejatinya sudah pernah rilis di stasiun televisi berbaya,r OSN Ya Hala Al Oula pada 2017. Judulnya Qalb Al Adala.

Sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya, ini merupakan kali pertama Netflix menayangkan film bernuansa Arab di platform-nya. Film bergenre drama ini boleh dibilang menawarkan hal baru bagi para penikmat serial Netflix.


BACA JUGA

Sylvester Stallone bakal main film superhero

Space Jam 2 bakal tayang tahun 2021

Captain Marvel dipastikan punya dua post credit scene


Pada awalnya, film ini sempat menggugah rasa penasaran saya, terutama dengan nuansa Arab yang kelihatannya akan hadir sangat kental di dalamnya. Satu hal lagi, film ini sendiri dibuat oleh Walter Parkes, peraih nominasi Oscar dengan pemenang Emmy Award, William Finkelstein sebagai produsernya.

Untuk diketahui, Justice mengambil contoh kasus nyata yang pernah terjadi di Dubai. Bahkan, dalam proses pembuatannya, film ini melibatkan Departemen Kehakiman Abu Dhabi sebagai konsultan. Keterlibatan Departemen Kehakiman Abu Dhabi pun sampai menyediakan akses ke ruang sidang asli dari kasus di film tersebut.

Justice bercerita mengenai seorang wanita muda bernama Farah yang baru saja menyelesaikan studi hukumnya di Amerika. Ayahnya, yang juga berprofesi sebagai seorang pengacara, berharap Farah mau bergabung ke dalam firma hukumnya. Sayangnya, Farah lebih memilih mendirikan firma hukumnya sendiri.

Sesudah kekeh mendirikan firma sendiri, Farah justru kesulitan menemukan klien yang mau bekerja sama dengan pengacara pemula seperti dirinya. Tawaran kerja sama dari ayahnya ditolak. Sampai pada akhirnya ia ditawari sebuah kasus pembunuhan. Ironisnya, sang pelaku justru tidak mau didampingi oleh pengacara.

Kesulitan Farah dalam meraih simpati pelaku pembunuhan tersebut menemui kebuntuan. Ia yakin, sang pelaku sebenarnya tidak bersalah. Berbagai cara dilakukannya untuk membuktikan sang pelaku tidak bersalah. Meski tidak menunjukkan kekhawatiran, toh, Ayahnya tetap menunjukkan perhatiannya. Ia menugaskan bawahannya, Ali untuk menyediakan informasi terkait orang yang diduga bersalah dalam kasus tersebut. Berkat bantuan itu, Farah berhasil menyelesaikan kasus tersebut. Namun ujungnya, keputusan itu memicu kemarahan terpendam Farah.

Film ini sebenarnya menawarkan banyak hal menarik yang hanya dapat ditemukan di kawasan Uni Emirat Arab. Kalau mau dibandingkan dengan film-film lain yang kebetulan mengambil latar tempat di Dubai, nuansa Arab yang hadir dalam Justice terasa lebih kaya.

Namun harus saya akui, jalan cerita yang ditawarkan cukup monoton. Alurnya sebenarnya tidak terlalu lambat. Sudah pas menurut saya. Namun penyampaiannya terlalu monoton, sehingga terasa sangat lama untuk menyaksikan selesainya sebuah kasus. Jalan ceritanya seolah hambar, misalnya ketika Farah memutuskan untuk mendirikan firmanya sendiri. Penolakan yang ditunjukkan bagi saya kurang mengena. Baru sebatas perbincangan orangtuanya saja. Kurang sentuhan pemanis untuk membuat lakon ini semakin menyenangkan untuk disaksikan.

Agak kurang pas menurut saya jika menyebut film ini sebagai drama. Pasalnya, hampir setiap konflik tidak memiliki efek dramatisasi. Memang, terlalu dramatis bisa merusak kesenangan saat menyaksikannya, namun bukan berarti harus mengemasnya dengan cara yang datar-datar saja.

Diskusi di ruang sidang kurang nendang. Ketegangan saat membela kliennya rasanya kurang maksimal. Padahal, sebagai sebuah drama hukum, adegan tersebut bisa berdampak besar bagi jalannya cerita. Debat di ruang sidang kurang panas ketimbang film lain dengan adegan yang melibatkan hakim dan jaksa.

Dari segi cerita, Justice tak ubahnya serial drama lain yang pernah ada. Konflik berkisar pada keluarga, pekerjaan, bahkan urusan cinta. Hanya saja, harus diakui bahwa Justice ini kurang nendang pembawaannya.

Tak dapat dimungkiri, saya terkesan dengan kemandirian yang ditampilkan oleh karakter Farah. Kendati ayahnya sudah terkenal, ia enggan bergabung ke firma ayahnya. Farah lebih memilih mendirikan kantornya sendiri dan berjuang mendampingi kliennya seorang diri. Meski beberapa kali dibantu secara diam-diam, toh, keteguhan Farah untuk tetap pada pendiriannya sangat patut dikagumi.

Selebihnya, film ini bakal memberi gambaran mengenai kultur kawasan Uni Emirat Arab, meski tidak terlalu banyak, namun cukup kaya dibandingkan film-film lain yang pernah menggunakan Dubai sebagai latarnya.

Saya sebenarnya agak sedikit kecewa mengingat film ini dibuat oleh seorang peraih nominasi Oscar dan pemenang Emmy Award. Tensinya kurang tinggi. Emosi saya pun tidak ikut terpancing layaknya ketika menonton drama-drama lain. Tapi setidaknya, saya bisa menikmati sebagian kecil Dubai dengan budaya dan gaya hidupnya yang sudah terkenal itu.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: