Jangan nonton Crazy Rich Asians bareng pasangan kamu

Bila kamu berencana nonton akhir pekan ini dengan pasanganmu dan tertarik untuk menonton Crazy Rich Asians, urungkan niat kamu sekarang juga!

Saya menonton Crazy Rich Asians dan tidak akan merekomendasikannya bagi para lelaki. Percayalah, hubungan kamu dengan pasangan akan bergejolak setelah itu.

Menurut hemat saya, para perempuan akan tergila-gila dengan film ini dan akan membicarakannya berhari-hari, seolah-olah film ini tidak pernah tamat dalam sekali tonton.

Kenapa bisa begitu? Sebenarnya Cazy Rich Asians menawarkan kisah Cinderella dalam format modern. Ada pangeran tampan dalam sosok anak sulung taipan Singapura super tajir bernama Nick Young. Cinderella-nya adalah perempuan Asia-Amerika dari kelas menengah New York bernama Rachel Chu.

Rachel berpikiran terbuka dan kuat karena lahir dan dibesarkan dalam budaya Amerika. Apalagi, dia hidup dengan ibunya yang orangtua tunggal. Ibunya membesarkannya dari nol hingga jadi Professor jurusan Ekonomi di University of New York.

Dalam sudut pandang saya sebagai laki-laki, Nick sang pangeran tampan sempurna anak orang super tajir nan rendah hati ini cuma sekadar bumbu. Perannya tidak dominan dan sekadar sebagai sosok fantasi bagi para perempuan akan kriteria pria idaman mereka.

TentuĀ susah untuk menemukan Nicky Young di kehidupan nyata. Rekan-rekan perempuan saya yang menonton film ini menyadari hal itu. Kendati begitu, karakter ini membekas dan membuat mereka tidak tidur semalaman. Pasalnya, karakter Nicky yang justru tidak terlalu dominan menjadi penyeimbang drama Rachel Chu yang kompleks.

Menarik membedah kisah dan pergulatan Rachel yang menjadi poros dramaturgi dalam Crazy Rich AsiansĀ ini. Secara psikologis, perempuan akan merasa dekat dengan karakter Rachel Chu. Colette Dowling pernah menulis buku berjudul The Cinderella Complex: Women's Hidden Fear of Independence, 1981. Cinderella Complex menjadi istilah budaya pop dalam menggambarkan karakter perempuan yang gamang akan kebebasannya dalam memilih di situasi yang rumit.

Kompleksitas ini mengambil potret Cinderella dalam kisah dongeng Yunani di abad ke-7 SM. Cinderella merupakan penggambaran perempuan cantik, sopan, pekerja keras, mandiri, namun tidak diterima oleh lingkungan sosialnya. Dia tak mampu mengubah situasi dengan aksinya sendiri tanpa bantuan kekuatan orang lain. Dalam hal ini biasanya laki-laki. Karakter Cinderella pas menggambarkan psikologi perempuan yang lama didominasi oleh laki-laki.

Oleh sebab itu, para perempuan akan selalu tertarik dengan karakter perempuan lainnya yang mendobrak hegemoni laki-laki di dunia. Kisah semacam Cinderella Complex sebenarnya kisah kodian, bahkan sering ditawarkan peramu film FTV lokal bukan?

Hanya saja, struktur dongeng Cinderella dalam Crazy Rich Asians telah dimodifikasi untuk mengakomodir penonton perempuan modern yang tinggal di kota. Konfliknya pun selalu berkaitan dengan lingkaran sosial sang Cinderella. Rachel Chu yang berasal dari kalangan orang biasa tentunya tidak mudah diterima oleh lingkungan sosial Nick Young yang penuh serigala.

Sebagai pangeran yang siap menerima lungsuran dinasti bisnis keluarga yang menggurita, ada banyak perempuan dan calon mertua yang mengincarnya. Terdengar lekat bukan dengan kisah opera sabun biasanya?

Sampai di sini, bisa kamu bayangkan sendiri kisah Crazy Rich Asians sampai akhir. Bukan berarti kisah klise ini tidak nikmat untuk ditonton. Ada banyak penyegaran di tiap adegan yang mengaduk emosi. Mulai dari lelucon yang cerdas ala millennials, sampai konflik pengoyak batikn.

Perjuangan Rachel Chu menghadapi konflik benar-benar akan menjadi refleksi penonton perempuan mana pun, termasuk pasanganmu. Rachel Chu sukses mewakili suara perempuan muda modern 2018.

Ditambah lagi, budaya ketimuran yang masih menjunjung tinggi keluarga dalam institusi pernikahan sangat pas menggambarkan situasi kehidupan sosial para perempuan Asia, khususnya Indonesia. Menghadapi calon mertua perempuan dan mengharapkan restu mereka adalah situasi yang kerap dihadapi perempuan muda Asia.

Di sini, para penonton laki-laki sebenarnya belajar, konflik batin seperti apa yang dihadapi pasangannya saat mereka mengenalkan sang calon ke ibu mereka. Bagi penonton pria cerdik, mungkin ada pelajaran berharga yang bisa diambil dari kisah Crazy Rich Asians ini.

Pada akhirnya, Crazy Rich Asians berhasil membuat pasangan laki-laki dan perempuan baper, bukan karena properti Nick Young yang mewah ataupun ketegaran Rachel memperjuangkan cintanya di hadapan calon mertua. Crazy Rich Asians berhasil bikin baper karena situasi dan kondisi percintaan laki-laki dan perempuan ternyata stereotype, bagaimanapun takdir dua sejolinya, kaya maupun miskin, tetap cinta yang akhirnya menang di atas segalanya.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: