Review Film

Isle of Dogs: Dunia muram cantik ala Wes Anderson

Wes Anderson membawa kita ke perlawanan sekelompok anjing di dunia fantasi yang muram dan menjijikkan bernama Trash Island.

 

Sebagai penggemar Wes Anderson, saya agak susah melepaskan bayangan “Moonrise Kingdom”, “Fantastic Mr.Fox”, “The Royal Tenenbaums”, dan tentu saja “The Grand Budapest Hotel” ketika menyaksikan “Isle of Dogs”. Film animasi stop motion terbaru karya Anderson ini -tayang perdana di Berlin International Film Festival ke-68, Februari 2018- masih mempertahankan gaya khasnya.


BACA JUGA

Menanti teror boneka Annabelle di 2019

Aquaman juarai box office luar negeri

Penayangan perdana Spider Verse raup USD42 juta


Tiga ciri khas utama Andersonian tentu saja: gambar simetri, palet warna, dan keberadaan narator yang membimbing penonton untuk menyelami bagian demi bagian film layaknya sedang membaca novel. Tiga ciri khas ini sudah melekat di hati penggemar film Anderson dan bahkan berkembang jauh melampaui film.

Tengok saja akun Instagram accidentalwesanderson atau gaya pernikahan, iklan, film pendek, dan foto-foto yang terinspirasi dari film-film Anderson. Jika terasa terlalu jauh, tengok saja akun Instagram dan video klip biduan Yura Yunita yang terinspirasi dari Fantastic Mr. Fox.

 

 

A post shared by YURA YUNITA (@yurayunita) on

 

"Isle of Dogs" sendiri berhasil memicu pengembang aplikasi VSCO untuk merilis filter khusus yang mereka sebut Dog.

Dibanding karya Anderson sebelumnya, kisah "Isle of Dogs" sebetulnya lebih gelap. Mengambil Jepang sebagai latar belakang cerita, film ini mengisahkan tragedi dan perjuangan para anjing yang terbuang ke kota sampah “Trash Island” di era pemerintahan Walikota Megasaki City, Kobayashi.

Kobayashi yang merupakan keturunan keluarga penggemar kucing, berkonspirasi untuk melenyapkan seluruh anjing dari kota Megasaki dengan alasan bahwa mereka terinfeksi flu anjing yang juga menjangkiti manusia.

Tema semacam ini terasa sedikit beririsan dengan kisah perlawanan dalam “Moonrise Kingdom” atau “The Grand Budapest Hotel”. “Moonrise Kingdom” secara cerdas memotret pemberontakan dan kepolosan cinta sepasang kekasih berusia remaja terhadap kedua orangtuanya. Sementara di “Grand Budapest Hotel” kita menyaksikan perlawanan terhadap rezim tiran dan diktator.

Melalui “Isle of Dogs,” Anderson membawa kita lebih dekat dengan anjing yang menjadi korban kesewenang-wenangan di dunia yang muram, menjijikkan, dan seperti tanpa harapa bernama Trash Island.

Lima anjing yang menjadi tokoh utama di Trash Island adalah Rex (Edward Norton), Duke (Jeff Goldblum), King (Bob Balaban), Boss (Bill Murray), and Chief (Bryan Cranston). Karakter Chief tampil lain sendiri karena merupakan satu-satunya anjing liar. Sebagai anjing liar, dia terlihat lebih galak, tegar, dan benci pada nostalgia.

Kisah ke-lima anjing ini mulai menarik ketika Trash Island kedatangan tamu manusia, seorang bocah berusia 12 tahun bernama Atari Kobayashi, yang tak lain adalah saudara jauh sang Walikota. Dikisahkan, Atari kehilangan orangtuanya dalam kecelakaan kereta api tiga tahun sebelumnya. Ketika diasuh oleh Kobayashi, Atari mendapatkan seorang anjing penjaga bernama Spots. Nah, saat memutuskan untuk mendeportasi semua anjing ke Trash Island, Spots adalah anjing pertama yang menjadi korbannya.

Kedatangan Atari ke Trash Island tak lain untuk mencari Spots. Kelima anjing tersebut pun berjanji untuk membantu mencari Spots di Trash Island yang amat luas.

Salah satu yang unik dari “Isle of Dogs” adalah Anderson menampilkan karakter Jepang berdialog dengan Bahasa Jepang, tetapi dia memilih tak menampilkan terjemahannya. Meski demikian, kita masih bisa mengerti maksudnya melalui umpan balik para anjing. Dalam salah satu dialog, misalnya, salah satu anjing berkata menimpali Atari dengan mengatakan “Aku berharap seseorang berbicara dalam bahasanya.”

“Isle of Dogs” menarik ditonton karena Anderson tak fokus pada tokoh-tokoh manusia yang tampil di dalamnya, melainkan pada anjing-anjing yang menjadi korban. Memang, ada juga tokoh manusia yang penting dalam pemberontakan terhadap Walikota Kobayashi yang digambarkan sebagai kleptokrat dan memanfaatkan kekuasaan demi kepentingan bisnisnya, yakni siswa pertukaran pelajar dari Amerika Serikat bernama Tracy Walker (Greta Gerwig). 

(Tracy Walker)

Anderson juga tak kehilangan rasa humor. Misalnya, ketika mencari Spots, sang narator dalam film menjelaskan bahwa kelima anjing dan Atari harus melewati “Middle Finger Islands”. Hahahaha.

Agar film ini tak melulu berisi tokoh jantan, Anderson memasukkan anjing betina bernama Nutmeg (Scarlett Johansson) dan Peppermint (Kara Hayward). Nutmeg merupakan bekas artis sirkus. Sementara Peppermint adalah penyintas sebuah laboratorium yang menjadikan anjing sebagai percobaan keji.

Walau kisahnya agak gelap, saya pribadi sangat menikmati "Isle of Dogs" dari aspek Andersonian. Adegan pertarungan anjing dengan anjing atau anjing dengan manusia, misalnya, merupakan salah satu favorit saya karena terkesan artistik. 

Oh ya, untuk kamu yang hendak menonton, sayang sekali, "Isle of Dogs" -seperti semua film Wes Anderson lain- tak akan masuk ke Indonesia. Saya sendiri menunggu berbulan-bulan di Google Play Store, tetapi tak muncul juga. Akhirnya, terpaksa menonton di situs ya itulah. Kita semua sudah tahu.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: