Review film

Green Book, film terbaik Oscar yang tidak jenuh ditonton

Sejarah diskriminasi rasial Amerika sangat getir. Namun kisah Green Book membawa kehangatan di tengah diskriminasi yang pekat era 1960-an.

Kisah-kisah perjalanan yang diangkat film selalu memberi kejutan. Itulah heroinnya. Saat perjalanan mengubah perspektif setiap karakter di dalamnya, selalu bisa menggugah penonton. Saya pun selalu puas dengan kisah-kisah semacam ini. Begitu juga dengan kisah Green Book (2018) yang dinobatkan sebagai film terbaik Oscar tahun ini.

Judul Green Book sendiri diambil dari sebuah buku, The Negro Motorist Green Book. Sebuah panduan perjalanan bagi ras Afrika-Amerika yang ditulis oleh Victor Hugo Green di 1936. Buku bersampul hijau ini merupakan kitab bagi pejalan Afrika-Amerika untuk menemukan rute paling aman di kota-kota paling diskriminatif di selatan Amerika. Perlu Anda ketahui, saat buku ini pertama kali terbit, politik dan hukum Amerika sangat diskriminatif terhadap ras Afrika-Amerika.


BACA JUGA

Jadwal tayang A Quiet Place 2 dipercepat

Men in Black terbaru diperkirakan raup USD40 juta pada debutnya

Star Wars: Knight of the Old Republic bakal digarap jadi film


Kemudian, pada 1962, Tony “Lip” Vallelonga, staf keamanan di klub malam Copacabana harus menganggur sementara. Pasalnya klub malam tempatnya bekerja sedang masa renovasi. Kehidupannya yang pas-pasan sebagai warga New York berdarah Italia, memaksanya menerima pekerjaan yang kurang menyenangkan baginya.

Tony Lip harus menjadi supir sekaligus body guad paruh waktu bagi seorang pianis eksentrik berdarah Afrika-Amerika, Don Shirley. Tony sendiri pada dasarnya tidak terlalu suka dengan orang kulit hitam. Tony merupakan produk zaman dan lingkungannya yang diskriminatif. Ia bahkan tidak mau meminum air dari gelas yang sama dengan orang kulit hitam. Ia memilih untuk membuang gelas itu ke kantong sampah.

Sementara sang bos, Don Shirley, bukan orang Afrika-Amerika biasa. Ia sangat terpelajar, berbakat, dan kaya-raya. Di masanya, ia jauh melebihi kaumnya yang dianggap warga negara kelas dua.

Hanya saja, Tony butuh upah yang sangat lumayan dari Shirley. Padahal pekerjaannya tidak mudah. Ia harus mengantar Shirley berminggu-minggu dalam tur musiknya menyusuri negara-negara bagian selatan Amerika. Untuk itulah, ia harus mengikui rute dari Green Book agar Shirley aman dari ancaman maut. Buku itu mengantarkan mereka ke motel, restauran, pom bensin, yang aman di kota-kota bengis buat kulit hitam. Meski pada akhirnya Shirley menemukan banyak kesulitan sepanjang perjalanan itu. Lewat perjalanan itu juga Shirley menyaksikan betapa kaumnya sangat-sangat kurang beruntung.

Tony yang tidak pernah menyukai orang kulit hitam pun harus semobil sepanjang perjalanan. Dalam kabin sedan Cadillac berwarna toska itulah karakter Shirley sedikit demi sedikit terungkap.

Perjalanan ini pula yang memaksa mereka harus mengenal satu sama lainnya. Betapa kedua orang ini sangat berlawanan sekali karakternya. Nyaris semua sudut pandang Tony bersebrangan dengan prinsip-prinsip yang dianut Shirley. Shirley punya selera yang sangat tinggi, sementara selera Tony kampungan. Percekcokan kecil di awal-awal cerita sangat terasa di antara mereka. Kendati begitu, hubungan mereka perlahan menguat seiring waktu.

Perspektif Tony mengenai Shirley pun berubah, begitu juga sebaliknya. Selama perjalanan ini, Shirley sangat bergantung sekali dengan Tony. Pernah Shirley tertangkap atas tuduhan gay oleh Sherif setempat. Tanpa bantuan Tony dan kemampuannya dalam membual, tur Shirley nyaris gagal total. Shirley telah terborgol dengan seorang laki-laki dengan kondisi telanjang bulat. Mukanya bonyok habis dipukuli petugas.

Setelah selamat dari tuduhan tersebut, Shirley ada dalam pengawasan Tony sepenuhnya. Shirley tidak boleh ke manapun tanpa sepengetahuan Tony. Aturan ini sekaligus mempererat persahabatan mereka untuk seterusnya. Tiba-tiba urusan perjalanan bisnis bagi Tony, berubah menjadi sebuah pengalaman terbesar yang mengubah sudut pandangnya mengenai kesetaraan umat manusia untuk selamanya.

Ia sadar, meski Shirley berbakat, menjadi kulit hitam di masa itu tidak mudah. Bahkan untuk membeli setelan jas di butik, Shirley mendapat diskriminasi yang kurang pantas. Bahkan awalnya, penjaga toko mengira Tony lah sang tuan, dan Shirley adalah jongosnya.

Lalu apa alasan sebenarnya Shirley melakukan perjalanan tur ini? Risiko yang ia tanggung terlalu besar. Padahal kalau mau, ia lebih aman untuk melakukan tur konser ke negara-negara bagian utara Amerika. Ada misi besar yang ia bawa sehingga mau melakukan perjalanan besar ini. Sesuatu yang harus ia lakukan, demi kaumnya.

Di luar kisah jalinan persahabatan Tony dan Shirley, Peter Farrely selaku sutradara sekaligus penulis naskah sangat cerdas menggambarkan kondisi geo politik Amerika 1960-an. Penonton tanpa merasa digurui oleh narasi film jadi memahami politik rasial Amerika yang sangat diskriminatif. Bagi penonton lintas negara seperti saya, gambaran kondisi Amerika masa itu tersampaikan dengan jelas.

Sementara itu celotehan-celotehan Tony sepanjang perjalanan menjadi bumbu humor yang mewarnai kisah. Humor-humor yang dibawakan dalam Green Book memang tidak selalu mudah. Arahnya lebih ke genre komedi gelap.

Mulut Tony yang tidak pernah makan bangku sekolahan, kontras dengan karakter Shirley yang flamboyan, dingin, dan jauh lebih dewasa dari Tony. Hanya saja, menertawakan komedi film ini, seolah menertawakan kemanusiaan. Apa yang dianggap Tony - dan penonton- lucu, bisa jadi tidak lucu sama sekali. Bahkan komedi Tony amat menyinggung perasaan - ras - Shirley.

Komedi jenis ini adalah komedi kelas tinggi. Namun bukan berarti komedinya hanya bisa dinikmati orang-orang tertentu. Hanya saja komedi dalam Green Book mengajak kita berpikir sekaligus berempati secara mendalam dalam waktu bersamaan. Susah untuk tertawa di atas derita kaum lainnya. Tapi sialnya, karakter Tony benar-benar menghibur.

Ada momen ketika Tony menulis surat kepada istrinya. Shirley menanyakan, kenapa ia setiap kali harus bersusah payah menulis surat seperti itu? Tony sejujurnya mengatakan, karena biaya telepon mahal, dan ia harus berhemat untuk menyimpan lebih banyak uang lagi ke keluarganya.

Pada akhirnya, Tony yang kesusahan menyusun kata-kata ke dalam suratnya, dibimbing Shirley untuk merangkai kata-kata indah penuh gelora rindu. Tony berceletuk seusai menyusun surat atas arahan Shirley. Ia tidak pernah menulis surat seromantis itu sebelumnya, seolah dirinya penyair hebat.

Sesampainya surat itu di tangan istrinya, tidak hanya istri Tony yang terenyuh, namun juga teman-teman istri Tony yang mengetahui isi surat itu.

Selain potong-potongan adegan itu, masih banyak sekali fragmen-fragmen penting yang membuat Green Book benar-benar nikmat untuk ditonton.

Kisah ini sendiri diangkat dari  kisah nyata. Dr. Don Shirley dan Tony Vallelonga sejak saat itu berteman sampai keduanya meninggal 2013 lalu.

Atas narasinya yang kuat, Green Book menjadi film terbaik di Oscar 2019. Mahershala Ali pemeran Dr. Don Shirley pun diganjar aktor pendukung terbaik. Selain itu naskahnya pun menjadi naskah original terbaik.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: