Bagaimana Apple dan Amazon bisa jadi perusahaan terkaya di dunia?

Keduanya jadi yang pertama di dunia sebagai perusahaan bernilai USD1 triliun. Hal itu bukan sekedar faktor keberuntungan semata.

Bagaimana Apple dan Amazon bisa jadi perusahaan terkaya di dunia?

Pertama kali menggunakan iMac, saya rasa produk ini sangat menyebalkan awalnya. Saya harus beradaptasi lagi dengan interface dan sistem operasinya. Kendati begitu, folder dan data di iMac saya jauh lebih rapi dibanding folder dan data di laptop Windows saya.

Soal desain produk, performa hardware, sistem operasi dan interface yang humanis sekaligus catchy, memang Apple jawaranya. Sejak saat itu, saya berharap punya duit lebih untuk membeli Macbook. Bentuknya yang elegan, bobotnya yang ringan, dan pastinya kepuasan yang sama akan saya dapatkan seperti saat saya menggunakan iMac di kantor lama.


BACA JUGA

Pesawat listrik ini andalkan motor dari Siemens

Perhiasan ini bisa akali sistem pemindai wajah

Pelampung ini dilengkapi kendali jarak jauh untuk memudahkan proses penyelamatan


Belum lagi sejak kemunculan iPhone 2006 lalu, dunia yang kita tinggali berubah total hingga kini. Ponsel pintar baik dengan sistem operasi iOS dan Android jadi punya standar. Tentu cikal bakal ponsel pintar itu adalah iPhone generasi pertama (2006).

Hudhan, seorang Desainer, sempat gonta-ganti ponsel pintar berbasis Android, sampai pernah punya Nexus (Google). Namun kini ia pemuja iPhone, dengan iPhone 6 sebagai daily driver. Ia berharap, kalau nanti ganti ponsel pintar lagi, itu adalah iPhone terbaru, bukan Android.

Fenomena ini bukan perkara gengsi semata. Namun sebagai pengguna gadget kelas berat, ponsel pintar buatan Apple memang patut jadi top of mind di kepala konsumen. Pasalnya, produk ini powerful di bagian chipset, efisien dalam penggunaan RAM, dan update soal sistem operasi.

Poinnya adalah, bagaimana perusahaan ini benar-benar menentukan pola konsumsi pelanggan mereka, dengan menciptakan layanan serta teknologi hasil racikan mereka sendiri. Sementara perusahaan lain, masih gamang mencari tren untuk memenuhi keinginan konsumen yang belum tentu pas dengan zaman. Di Apple, merekalah pencipta tren dan penentu zaman.

Memang selain Apple ada Amazon, Facebook, Google dan Microsoft yang menjadi kapital terbesar di dunia saat ini. Namun Apple dan Amazon yang menjadi perusahaan pertama di dunia senilai USD1 triliun. Nilai itu setara Rp14,2 kuadriliun. Hey kawan, pernahkah kamu mendengar jumlah uang Rupiah sebanyak itu? Kenapa dua perusahaan ini bisa jadi yang paling sukses?

Apple selalu mencoba hipotesa kapital, bahwa harga yang lebih tinggi, akan menghasilkan produk yang lebih baik. Sebenarnya bukan sekadar produk praktis semata yang coba dijejalkan Apple ke konsumen. Di dalamnya terkandung ide, keuntungan bagi konsumen, ruang penyimpanan yang besar, sampai skema costumer service yang membuat tiap individu berasa spesial. Semua rangkaian itu demi menghadirkan satu produk terbaik di tangan konsumen. Satu paket produk itu pun menuntut harga lebih. Hanya saja, paket itu terlihat cantik, keren, menyenangkan, mutakhir dan memang humanis.

Ironisnya, Amazon adalah antitesis bagi Apple. Kultur membangun produk dan layanan prima di Apple tidak berlaku bagi Amazon. Banyak pengguna Amazon datang ke platform e-commerce itu hanya karena harga di sana sangat-sangat murah. 

Pernah suatu kali saya membeli buku di Amazon untuk hadiah ulang tahun kawan, lantaran harganya yang jauh lebih murah daripada di toko-toko buku Indonesia. Padahal perlu waktu dan tambahan dana untuk mengirim barang dari Amerika.

Dua kekuatan kapital ini berdiri di kutub yang berbeda. Satu menjual produk mahal namun sangat diinginkan oleh konsumennya. Satu lagi menjual produk murah yang mampu merangsang pembeli, kemudian menciptakan pengalaman belanja yang adiktif.

Seolah-olah lebih mudah menjadi Amazon yang menjual barang diskon setiap hari dan menjadi kaya tanpa susah payah memikirkan Quality Control. Sementara menjadi perusahaan seperti Apple butuh dedikasi.

Saya jadi menarik kesimpulan dari dua kapital di atas. Serevolusioner apapun industri digital zaman sekarang, kapitalisme tetap menawarkan dua hal. Perusahaan yang menawarkan produk dan layanan impian setiap orang. Di lain sisi, akan ada perusahaan yang terus menyuapi perilaku konsumtif kita yang rakus.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: