Dinding Lumut Penyaring Polusi dan AI untuk Tunanetra Juarai Samsung Solve for Tomorrow 2026
Pelajar SMA Jakarta dan mahasiswa Bandung menjuarai Samsung Solve for Tomorrow 2026 lewat inovasi AI untuk polusi udara dan siswa tunanetra.
Pemenang Samsung Solve for Tomorrow 2026.dok. Samsung
Inovasi dinding lumut pintar untuk membantu menyaring polusi udara dan aplikasi pembelajaran matematika bagi siswa tunanetra mengantarkan dua tim pelajar dan mahasiswa meraih juara pertama Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026.
Tim BryotechAlpha dari SMA Negeri 81 Jakarta memenangkan kategori SMA/SMK/MA melalui inovasi AeroSpora, sedangkan tim I-SEUNG dari Universitas Komputer Indonesia menjadi juara pertama kategori Perguruan Tinggi berkat aplikasi NovaSight.
Kedua inovasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tersebut diumumkan sebagai pemenang kompetisi Samsung Solve for Tomorrow 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
AeroSpora dikembangkan untuk membantu mengatasi persoalan polusi udara, khususnya di Jakarta.
- Galaxy Tab S12 Series Resmi Dijual, Bawa Dimensity 9500 dan Galaxy AI
- AC Baru Samsung Punya Fitur Pemurni Udara dan AI, Harga Mulai Rp10 Jutaan
- Samsung Solve for Tomorrow 2026 Ajarkan Anak Muda Tak Asal Pakai AI untuk Bikin Inovasi
- Foto Sering Blur? Ini 3 Fitur Camera Assistant Samsung Galaxy yang Bisa Dicoba
Perangkat berbentuk dinding lumut pintar ini memadukan kemampuan lumut sebagai penyaring udara alami dengan teknologi Internet of Things (IoT) dan AI.
Melalui sejumlah sensor, AeroSpora dapat memantau suhu, kelembapan udara, kelembapan media tanam, serta kadar partikel polusi PM2.5 secara langsung.
Sistem AI pada perangkat juga mampu memprediksi risiko kekeringan lumut dan mengaktifkan pengabutan otomatis untuk menjaga kelembapannya.
Menariknya, AeroSpora memanfaatkan air kondensasi AC sebagai sumber air untuk sistem pengabutan.
Perangkat berukuran 120 x 50 sentimeter tersebut membutuhkan daya listrik sekitar 15–25 watt dan dirancang untuk menjangkau ruangan seluas 50–80 meter persegi.
Pengguna juga dapat memantau kondisi udara melalui V.E.R.A (Visual Environment Real-time Analytics), sistem pemantauan yang memanfaatkan tablet bekas dan dilengkapi chatbot edukatif.
Perwakilan tim BryotechAlpha, Azkeanu Rhesa Ramadhan, mengatakan inovasi tersebut lahir dari keinginan menghadirkan kualitas udara yang lebih baik melalui perpaduan alam dan teknologi.
"Kami ingin menghadirkan udara yang lebih bersih bagi warga Jakarta melalui perpaduan alam dan teknologi," ujar Azkeanu.
Sementara itu, tim I-SEUNG mengembangkan NovaSight, aplikasi pembelajaran matematika berbasis AI yang dirancang untuk membantu siswa tunanetra memahami materi, termasuk grafik dan diagram yang selama ini sulit diakses.
Ide tersebut muncul setelah tim melakukan wawancara di SLB Negeri A Citeureup, Cimahi, Jawa Barat.
Mereka menemukan siswa tunanetra menghadapi kendala dalam memahami materi matematika berbasis visual, sementara guru membutuhkan cara yang lebih mudah untuk mengevaluasi proses pengerjaan soal.
NovaSight memiliki lima fitur utama. Fitur Annoter mengubah modul matematika menjadi teks naratif yang dapat dibaca menggunakan pembaca layar, sedangkan Scriber membantu siswa mencatat langkah penyelesaian soal melalui keyboard yang kompatibel dengan teknologi tersebut.
Aplikasi ini juga dilengkapi Clarifier untuk menjawab pertanyaan berdasarkan materi pembelajaran, Quizzer untuk membantu guru membuat soal dan kunci jawaban, serta Evaluaizer untuk menganalisis kesalahan dalam langkah pengerjaan siswa.
Dalam uji coba yang dilakukan tim, siswa tunanetra mampu menjawab empat dari lima soal matematika secara mandiri dalam waktu 15 menit tanpa pendampingan guru.
Perwakilan tim I-SEUNG, Regia Qolbu Rivita Atmowidjaja, mengatakan pengembangan NovaSight berangkat dari kepedulian terhadap akses pendidikan bagi siswa tunanetra.
"Kemenangan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menyempurnakan NovaSight agar dapat memberikan manfaat nyata bagi lebih banyak siswa," kata Regia.
Samsung Solve for Tomorrow 2026 sendiri diikuti lebih dari 4.000 pendaftar.
Sebanyak 2.600 peserta mengikuti pelatihan Design Thinking, sebelum 40 tim melaju ke semifinal dan mendapatkan pembekalan teknis AI.
Pada tahap akhir, masing-masing 10 tim terbaik dari kategori SMA/SMK/MA dan Perguruan Tinggi mengikuti penjurian untuk memperebutkan penghargaan.
Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia Anggi Paramita mengatakan kompetisi tersebut bertujuan mendorong generasi muda memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab persoalan masyarakat.
"Kami bangga dan terinspirasi melihat generasi muda Indonesia mengubah tantangan di sekitar mereka menjadi ide dan solusi inovatif," ujar Anggi.
Samsung berharap inovasi para pemenang tidak berhenti pada kompetisi, tetapi terus dikembangkan agar dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.









