×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Samsung Solve for Tomorrow 2026 Ajarkan Anak Muda Tak Asal Pakai AI untuk Bikin Inovasi

Oleh: Tek ID - Selasa, 01 September 2026 20:00

Sebanyak 296 peserta Samsung Solve for Tomorrow 2026 dilatih memahami masalah dan data sebelum mengembangkan solusi berbasis AI.

Samsung SFT 2026 Ajarkan Anak Muda Tak Asal Pakai AI Tim Labmino, pemenang Samsung Solve for Tomorrow 2025 dan Global Ambassador. dok. Samsung

Kemudahan menggunakan kecerdasan buatan (AI) memunculkan tantangan baru bagi generasi muda. Kemampuan mengoperasikan teknologi saja tak lagi cukup. 

Mereka juga perlu memahami masalah apa yang sebenarnya perlu diselesaikan dan apakah AI memang menjadi solusi yang tepat.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu fokus Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026. Sebanyak 296 peserta yang tergabung dalam 80 tim semifinalis mengikuti pelatihan AI Amplification untuk mengembangkan kemampuan problem solving, memahami pengguna, mengolah data hingga membuat prototype berbasis AI.

Para semifinalis sebelumnya melewati proses seleksi dari sekitar 4.000 pendaftar awal. Sebanyak 2.600 peserta kemudian mengikuti Design Thinking Workshop sebelum akhirnya terpilih 80 tim untuk melanjutkan perjalanan di tahap semifinal.

Alih-alih langsung mengarahkan peserta menggunakan teknologi AI tertentu, pelatihan justru dimulai dengan pertanyaan mendasar: masalah apa yang ingin diselesaikan?

Pendekatan ini menjadi penting ketika akses terhadap berbagai teknologi AI semakin mudah. 

Ide inovasi berisiko terjebak pada penggunaan teknologi yang sedang populer tanpa terlebih dahulu memastikan apakah teknologi tersebut benar-benar dibutuhkan pengguna.

Dalam AI Amplification, peserta terlebih dahulu mempelajari cara mengidentifikasi permasalahan, memahami pengguna yang terdampak, menentukan kebutuhan data, memilih pendekatan teknologi hingga menetapkan tujuan dan keluaran solusi.

“Dalam mengembangkan solusi berbasis AI, peserta perlu memahami bahwa teknologi bukanlah titik awal. Mereka perlu terlebih dahulu mengidentifikasi masalah, memahami kebutuhan pengguna, dan melihat data yang tersedia,” ujar AI Engineer sekaligus pengajar Technical AI Amplification Samsung Solve for Tomorrow 2026, Rahmat Fajri.

“Dari sana, peserta dapat menentukan apakah AI memang dibutuhkan dan pendekatan apa yang paling sesuai,” tambahnya.

Sebanyak 80 tim semifinalis mengikuti rangkaian AI Amplification pada 14, 15, 22, dan 23 Agustus 2026. 

Untuk pertama kalinya dalam penyelenggaraan Samsung Solve for Tomorrow di Indonesia, pelatihan teknis pada tahap semifinal digelar menggunakan format hybrid.

Pengajar memberikan materi secara langsung dari kantor Samsung Indonesia, sementara para peserta mengikuti sesi pembelajaran secara daring.

Pengetahuan yang diperoleh kemudian diterapkan pada proyek masing-masing peserta. Melalui sesi praktik dan tanya jawab, peserta menganalisis masalah, kebutuhan data, kategori AI yang diperlukan, tujuan hingga potensi dampak dari solusi yang dikembangkan.

Dengan pendekatan tersebut, pertanyaan yang harus dijawab tidak lagi sekadar apakah sebuah teknologi bisa dibuat, tetapi apakah solusi yang dikembangkan benar-benar diperlukan penggunanya.

“Di awal, banyak peserta datang dengan ide dan langsung ingin menggunakan teknologi AI tertentu. Setelah mengikuti pembelajaran, mereka mulai memahami pertanyaan yang perlu dijawab terlebih dahulu: apa masalahnya, siapa penggunanya, data apa yang tersedia, dan apakah AI merupakan solusi yang tepat,” kata Rahmat.

“Perubahan mindset ini sangat penting dalam mengembangkan solusi berbasis AI,” tambahnya.

Setelah memahami masalah dan menentukan cakupan solusi, peserta mulai mempelajari AI development pipeline untuk mengembangkan prototype.

Materi yang diberikan mencakup pengolahan data, pemilihan dan pengembangan model, evaluasi hasil, fine-tuning, serta transfer learning. Peserta juga mempelajari integrasi teknologi melalui pendekatan Edge AI dan Cloud AI.

Selain itu, peserta diperkenalkan dengan sejumlah teknologi AI, mulai Machine Learning, Deep Learning, Generative AI, Computer Vision, Natural Language Processing (NLP), predictive AI, hingga sensor-based AI.

Pemahaman tersebut digunakan untuk membantu peserta menentukan teknologi yang paling relevan dengan masalah yang ingin mereka pecahkan, bukan sekadar menggunakan AI karena teknologinya sedang berkembang.

Pengembangan kemampuan tersebut berlangsung ketika AI dan coding mulai mendapatkan tempat lebih besar dalam sistem pendidikan Indonesia.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong pemanfaatan AI dan coding sebagai bagian dari transformasi pendidikan.

Dalam Pertemuan Menteri Pendidikan ASEAN ke-14, Kemendikdasmen menyampaikan AI dan coding telah diterapkan sebagai mata pelajaran pilihan mulai kelas V SD. 

Implementasinya turut diperkuat melalui pelatihan guru serta penyediaan sarana dan prasarana.

Namun, kemampuan AI tidak hanya berkaitan dengan keterampilan teknis. 

Pengembangan sebuah solusi juga membutuhkan kemampuan memahami kebutuhan pengguna, membaca data, bekerja sama, berkomunikasi dan menentukan teknologi yang sesuai.

Karena itu, Samsung Solve for Tomorrow turut memasukkan kemampuan problem solving, kolaborasi, kreativitas dan komunikasi sebagai bagian dari proses pengembangan peserta.

“Generasi muda punya potensi besar. Tugas kami adalah memberi mereka ruang, keterampilan STEM dan AI, dan kesempatan untuk menjawab tantangan nyata. Karena kami percaya, inovasi tidak lahir dari teknologi semata, tetapi dari keberanian untuk melihat masalah dengan cara yang berbeda,” ujar Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, Anggi Paramita.

“Bukan sekadar bisa membuat, tapi tahu apa yang perlu dibuat. Melalui tahap semifinal ini, kami tidak hanya mematangkan ide para peserta, tetapi juga menyiapkan mereka menjadi penggerak inovasi masa depan,” imbuhnya.

Setelah menyelesaikan AI Amplification, peserta semifinal akan mengikuti sesi mentoring untuk menyempurnakan solusi masing-masing. Mereka selanjutnya harus mengembangkan final paper, prototype, dan pitch video.

Sebanyak 10 tim terbaik dari masing-masing kategori Siswa dan Mahasiswa dijadwalkan diumumkan pada 7 Oktober 2026 untuk melaju ke babak final.

Tag

Tagar Terkait

×
back to top